Selasa, 13 Desember 2011

Lagi !!! Akhlak Rasulullah saw mengguncang Dunia...

Ini Kisah Nyata ! Secarik sejarah dari seseorang yang telah mengubah peradaban DUNIA..

oleh Masayu Khairunnisa pada 11 Desember 2011 pukul 20:10
 
Abu Bakar ra menatap bungkusan roti di genggamannya lalu melihat pengemis renta dihadapannya. Lelaki pengemis itu buta matanya. Mengayun kepala. Tidak berbicara.

"JANGANLAH ENGKAU MENDEKATI MUHAMMAD KARENA DIA ORANG GILA, PEMBOHONG DAN TUKANG SIHIR. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya." Begitu pengemis buta itu suka berkata-kata, dahulu. Sekarang tidak lagi. Kabar meninggalnya Sang Nabi barangkali telah sampai kepadanya. Jadi, tak perlu lagi dia berteriak ke mana-mana.

Sekarang, Abu Bakar duduk dihadapannya. Seolah tengah mengukur apa yang ada di kepala pengemis Yahudi di hadapannya.Terbayang sedikit perbincangannya dengan 'Aisyah beberapa waktu lalu. Perbincangan tentang pengemis di hadapannya.

"Wahai Putriku, adakah satu sunnah kekasihku yang belum aku tunaikan ?"
Betapa Abu Bakar ingin mengikuti apa pun yang dahulu dilakukan Sang Nabi. Apa pun. Sekecil apa pun yang dicontohkan Sang Nabi, dia masih belum yakin seluruhnya dia ingat dengan tepat.

"Wahai Ayahku." 'Aisyah yang belia menatap Ayahnya sementara air matanya mulai menjelaga. "Engkau adalah seorang ahi sunnah dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum engkau lakukan, kecuali satu."

"Apakah itu?" Mengerut dahi Abu Bakar. Ternyata benar bahwa pengetahuannya tentang Sang Nabi bukan tanpa celah sama sekali.

"SETIAP PAGI, RASULULLAH SELALU PERGI KE UJUNG PASAR DENGAN MEMBAWAKAN MAKANAN UNTUK SEORANG PENGEMIS YAHUDI YANG BUTA DI SANA."

Di sini, Abu Bakar pagi ini. Tak mau menunda lama. Ingin dia tuntaskan apa pun yang dahulu dilakukan sang Nabi dan dia punya kemampuan untuk menyamai. Pengemis buta itu, sama seperti hari-hari sebelumnya,menunggu belas kasihan orang-orang. Namun, dia telah meninggalkan caci maki terhadap sang Nabi.

Abu Bakar membuka bungkusan yang dia siapkan. Mengambil potongan roti, kemudian menyuapkannya ke mulut sang pengemis. Ini tidak susah. Sunnah yang mudah.

Namun, tertahan tangan Abu Bakar, ketika pengemis buta itu menyentakkan kepalanya, menjauhkan mulutnya dari tangan Abu Bakar.

"Siapa Kau ?"
Sudah beberapa lama tak datang seseorang yang menyuapinya makanan, dan pagi itu hadir di hadapannya seseorang yang hendak melakukan hal sama. Namun, pengemis itu merasakan perbedaan diantara keduanya.

"ENGKAU BUKAN ORANG YANG BIASA DATANG KEPADAKU." Dua bola mata yang tak lagi bisa melihat itu bergerak-gerak. Ada kemarahan disana.

"JIKA DIA DATANG KEPADAKU, TIDAK SUSAH TANAGAN INI MEMEGANG DAN TIDAK SUSAH MULUT INI MENGUNYAH..." Kata si Pengemis, mengingat kembali orang yg dulu selalu menyuapinya dan kini telah tiada.

"ORANG YANG BIASA MENDATANGIKU ITU SELALU MENYUAPIKU DENGAN MULUTNYA DAN SETELAH ITU, DIA MEMBERIKAN PADAKU DENGAN MULUTNYA SENDIRI."

Abu Bakar dengan perasaan yang melumpuhkan. Bahkan, kehendaknya untuk berlemah lembut terhadap pengemis itu tak ada apa-apanya dengan cara Nabi melakukan hal yang serupa. Dia hendak menyuapinya dengan perlahan sedangkan Sang Nabi MENGUNYAHKAN TERLEBIH DAHULU SUPAYA LEMBUT MAKANAN ITU JADINYA.

Alangkah perasaan haru bercampur dengan rindu akan kemuliaan dan tiadanya dendam, menghancurkan keteguhan Abu Bakar. Dia terdesu, sedangkan tangannya gemetaran.

"Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu." Dia tetap berusaha berkata-kata. "Aku salah seorang dari sahabatnya. Orang mulia itu telah tiada. Dia adalah MUHAMMAD RASUL ALLAH."

Seolah berhenti detak jantung dada yahudi tua dihadapan Abu Bakar. Seolah ada yang mencengkram batang otaknya. Badannya gemetaran. Lalu membayang caci makinya yang bertahan lama dimulutnya. Caci maki yang dia katakan kepada setiap orang di setiap saat.
Dia mulai terisak. " Benarkah demikian ? "

Luruh badan ringkih yang napasnya pun telah tertatih. Dia kini mulai menyesali dirinya sendiri. "Selama ini aku selalu menghina, memfitnah dan menjelek-jelekkannya. Tapi...Tapi..." Terputus-putus kata-katanya. "Dia tidak pernah memarahiku, sedikit pun. Dia selalu mendatangiku setiap pagi. Membawakanku makanan. Dia...Dia begitu MULIA."

Bertangisan Abu Bakar dan lelaki tua yang mengingatkan dia kepada junjungannya. Menjejaki apa-apa yang pernah dijejaki seseorang yang dicintai terkadang semacam mengentakkan dada dengan palu kerinduan.

Kami hanturkan salam dan kemuliaan kepadamu ya Rasulullah...

Jumat, 09 Desember 2011

KELUARLAH SAUDARAKU

Saudaraku kau tahu bencana datang lagi
Porak lagi negeri ini
Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap
Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu
Sudah sedari lama berbaris-baris memanggil-manggil
Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari kenyamanan mihrabmu
Dari kekhusuan i´tikafmu
Dari keakraban sahabat-sahabatmu
Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari keheningan masjidmu
Bawalah roh sajadahmu kejalan-jalan
Ke pasar-pasar ke majelis dewan yang terhormat
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambil keputusan
Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari nikmat kesendirianmu
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini
Kumpulkan kembali tenaga-tenaga yang tersisa
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terindah
Ditengah badai gurun kehidupan
Keluarlah keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah akan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya
Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari ***

Kamis, 08 Desember 2011

Mengapa Allah blm jg mengabulkan doa mereka padahal tlh bertahun2 berdoa?

syaqiq al-balkhi bercerita: ketika ibrahim bin Adham berjalan dipasar2 Bashrah, org2 mengerumuni beliau.. mereka bertanya, "mengapa Allah blm jg mengabulkan doa mereka padahal tlh bertahun2 berdoa?"
Ibrahim Bin Adham mnjawab: "Hatimu telah mati dari sepuluh perkara"
1. Engkau mengenali Allah, tetapi tidak menunaikan Hak-Nya
2. Engkau membaca kitab Allah, tetapi tdk mau mempraktikkan isinya
3. Engkau mengaku bermusuhan dengan iblis, tetapi mengikuti tuntunannya
4. Engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan tingkah laku dan sunnah beliau
5. Engkau mengaku senang surga, tetapi tidak berbuat menuju kepadanya
6. Engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan dosa
7. Engkau mengakui kematian itu hak, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya
8. Engkau asyik meneliti aib - aib orang lain, tetapi melupakan aib2 dirimu sendiri
9. Engkau makan rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur padaNya
10. Engkau menguburkan orang-orang, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu,,

Rabu, 23 November 2011

Tangis Terakhir Nabi Muhammad

Tiba-tiba ada ucapan salam. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya. Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah. Ia berbalik kembali dan menutup pintu.
Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”
“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.
“Ketahuilah putriku, dia adalah orang yang menghapuskan kenikmatan sementara! Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah saw.
Fatimah menahan genangan air matanya.
Malaikat maut datang kepada-Nya, tetapi Rasulullah saw. bertanya mengapa Jibril tidak datang bersamanya.
Kemudian Rasulullah saw. menatap putrinya dengan pandangan nanar, seolah-olah ia tak ingin kehilangan setiap bagian dari wajah putrinya.
Kemudian, Jibril dipanggil. Jibril sebenarnya telah siap dia langit untuk menyambut ruh Rasulullah sang pemimpin Bumi.
“Wahai Jibril, jelaskan kepadaku tentang hak-hakku di hadapan Allah!”, Rasulullah saw. meminta dengan suara yang sangat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka. Para malaikat sedang menunggu ruh Anda. Semua pintu Surga terbuka luas menunggu Anda” kata Jibril.
Namun, kenyataannya, jawaban itu tidak membuat Rasulullah saw. lega.
Matanya masih penuh kekhawatiran.
“Anda tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.
“Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan?” kata Rasulullah saw.
“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, saya mendengar Allah berkata:” Aku haramkan Surga untuk semua orang, sebelum umat Muhammad memasukinya, ” kata Jibril.
Waktu bagi malaikat Izrail melakukan pekerjaannya semakin dekat dan dekat.
Perlahan-lahan, ruh Rasulullah saw. dicabut.
Tampak tubuh Rasulullah saw. bermandikan peluh, saraf lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit ini!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam sallalahu mengerang dengan perlahan.
Fatimah memejamkan mata, Ali yang duduk di sampingnya tertunduk dalam dan Jibril pun memalingkan mukanya.
“Apakah aku sedemikian menjijikkan sehingga engkau memalingkan muka wahai Jibril?” Rasulullah saw. bertanya.
“Siapa yang bisa tahan melihat Kekasih Allah di ambang sakaratul mautnya?” kata Jibril.
“Bukan untuk berlama-lama,” kemudian Rasulullah saw. mengerang karena sakit yang tak tertahankan.
Ya Allah betapa besar Sakaratul maut ini. Berikan kepadaku semua rasa sakit, tapi jangan untuk Umatku.
Tubuh Rasulullah saw. mendingin, kaki dan dadanya tidak bergerak lagi.
Dengan berlinang air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu.
Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw., “Jagalah shalat dan jagalah orang-orang lemah di antara kamu.”
Di luar ruangan, ada tangisan, ada kegaduhan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sekali lagi, Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw. dan dengan mulut yang telah membiru serta air mata berlinang, Rasulullah berucap lirih: “Ummatii , Ummatii, Ummatii…” “Umatku, umatku, umatku…

Episode Cinta di Akhir Hayat Nabi Muhammad

Berikut ini adalah sepenggal kisah dari episode kehidupan Nabi Muhammad saw yang dinukil dari kitab “Duratun Nashihin”. Kisah ini menggambarkan keadilan Rasulullah dan kecintaan para sahabatnya. Sebuah cinta yang berlandaskan iman dan berbalas surga.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa setelah dekat wafat Nabi Muhammad SAW, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyerukan shalat kepada manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para Sahabat Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah SAW. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat. Kemudian naik mimbar, memuji dan menyebut keagungan Allah SWT.
Beliau berkhutbah dengan sebuah khutbah yang dalam, hati menjadi takut karenanya, dan air mata bercucuran karenanya.
Kemudian Beliau bersabda: “Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya aku adalah seorang Nabi kepada kamu, pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah SWT dengan seijinNya. Dan aku berlaku kepadamu sebagai seorang saudara yang menyayangi dan sekaligus sebagai ayah yang belas kasih. Barang siapa diantara kamu yang mempunyai suatu penganiayaan pada diriku, maka hendaklah dia berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari kiamat.”
Tidak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri seorang laki-laki bernama Akasyah bin Muhshin.
Berdirilah dia di depan Nabi Muhammad SAW dan berkata: “Demi Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tidak akan mengajukan sesuatu mengenai itu. Sungguh aku pernah bersamamu di Perang Badar. Saat itu untaku mendahului untamu. Maka turunlan aku dari unta dan mendekatimu agar aku dapat mencium pahamu. Tetapi engkau lalu mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta agar cepat jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tidak tahu apakah itu atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu ya Rasulullah?”.
Rasulullah bersabda: “Mohon perlindungan kepada Allah hai Akasyah, kalau Rasulullah sengaja memukulmu.”
Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: “Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku.”
Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya diatas kepalanya: “Ini adalah Rasulullah, sekarang Beliau memberikan dirinya untuk diqishash.”
Dia mengetuk pintu Fathimah, dan bertanyalah Fathimah: “Siapa yang ada di depan pintu?”
Bilal menjawab: “Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah”
Fathimah bertanya: “Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”
Bilal menjawab: “Hai Fathimah, Ayahmu memberikan dirinya untuk di qhisash.”
Fathimah bertanya lagi: “Hai Bilal, siapakah yang sampai hatinya mau membalas pada Rasulullah?”
Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia ke Masjid serta memberikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul kemudian menyerahkannya kepada Akasyah.
Ketika Abu Bakar dan Umar ra. memandangnya, maka berdirilah mereka berdua dan berkata: “Hai Akasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad SAW.”
Bersabdalah Rasulullah SAW: “Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”
Berdiri pula Ali ra. dan berkatalah dia: “Hai Akasyah, aku masih hidup di depan Nabi Muhammad SAW. Tidak akan aku sampai hati kalau engkau membalas Rasulullah SAW. Ini punggungku dan perutku, balaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”
Berdiri pula Hasan dan Husain, dan mereka berkata: “Hai Akasyah, bukankan engkau mengenal kami berdua. Kami adalah dua orang cucu Rasulullah. Membalas kepada kami adalah sama seperti membalas kepada Rasulullah.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Duduklah engkau berdua wahai penyejuk mataku.”
Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Akasyah, pukullah kalau engkau mau memukul.”
Akasyah berkata: “Ya Rasulullah, engkau memukulku dahulu dalam keadaan aku tidak terhalang pakaianku.”
Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiaannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis.
Ketika melihat putihnya jasad Rasulullah, Akasyah menubruknya dan mencium punggungnya.
Berkatalah dia: “Nyawaku sebagai tebusanmu ya Rasulullah, siapakah yang akan sampai hati untuk membalasmu ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharapkan agar tubuhku dapat menyentuh jasadmu yang mulia, dan Allah akan memelihara aku berkat kehormatanmu dari neraka.”
Bersabdalah Nabi Muhammad SAW: “Ingat, barang siapa yang ingin melihat penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini.
Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Akasyah seraya berkata: “Beruntung sekali engkau, engkau berhasil mendapatkan derajat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad SAW di surga.

Cinta Sahabat Pada Rasulullah SAW


Sayyidina Bilal ra, muadzin Nabi SAW, seorang yang asalnya budak dan sekarang kita panggil sayyid (tuan) karena kemuliaannya menjadi sahabat Muhammad SAW.
Setelah wafat Nabi SAW, ia pun meninggalkan kota Madinah, karena merasa tidak mampu untuk tinggal di kota Nabi – tanpa sang Nabi. Selang beberapa waktu setelah tinggal di kota tujuannya, beliau memimpikan Rasulullah SAW yang mengisyaratkan untuk kembali ke Madinah. Maka beliau pun kembali ke Madinah.
Setibanya di Madinah, disambut oleh sayyidina Abu Bakar Shiddiq ra dan memintanya untuk kembali menjadi muadzin di kota Madinah sebagaimana dulu ia adzan untuk Nabi SAW. Beliau menolak,
“Tidak akan saya adzan selain untuk Nabi SAW,” katanya.
Sayyidina Umar ra pun memaksa dan Bilal menolak. Sayyidina Ustman dan sayyidina imam Ali ra memaksa dan beliau masih menolak.
Maka pulanglah Sayyidina Ali dan membisikkan kepada kedua anaknya, Sayyidina Al-Hasan dan Al-Husain, untuk meminta Bilal adzan di Madinah. Maka ketika sayyidina Al-Hasan dan Al-Husain meminta Bilal untuk adzan, beliau berkata,
“Bagaimana saya menolak permintaan yang disampaikan dari lisan yang pernah dikecup Nabi SAW.”
Datang waktu shalat. Bilal naik ke atas mesjid, lalu mengumandangkan:
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
Sebagian sahabat di Madinah yang tidak mengetahui kedatangan Bilal tersentak kaget, lalu bergembira, seakan terbangun dari mimpinya,
“Ada Bilal berarti ada Nabi SAW,” mengharap wafat Nabi SAW cuma mimpi.
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
Bergegas seluruh penduduk Madinah. Mereka keluar dari rumah mereka dengan hati bergetar penuh kerinduan.
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH
Mereka menuju masjid Nabi SAW, melihat Bilal.
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH
mencari Rasulullah SAW
dimana…?
mana…?
ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH
Gemuruh isak tangisan kesedihan kerinduan para sahabat di kota Madinah. Bilal pingsan, tak meneruskan adzannya.
Yaa Muhammad…!
hanya Bilal….
Mana Muhammad SAW…?
Di hati mereka, para sahabat, selalu hidup menyinari hati dan keimanan mereka dan di hati para sholihin, pencinta Muhammad SAW, bahkan selalu bersama mereka tak terpisahkan.
Oleh : Ustadzah Umbuhmaid
( Sumber : bisyarah)

Percakapan Sepasang Pencinta


“ Wahai Kekasih, janganlah kau takut kehilangan diriku tapi takutlah kehilangan Allah. Karena, jika kau kehilangan Allah, maka kau telah kehilangan segalanya, termasuk diriku. Namun, jika kau mendapatkan Allah, maka kau telah mendapatkan semuanya, termasuk pula mendapatkan aku.”

“Sesungguhnya aku mencintaimu bukan karena fisik dan kewibawaanmu. Tapi, semata-mata karena Agamamu, maka jika kau kehilangan Agamamu, hilanglah pula rasa cintaku padamu.”

“Wahai Kekasih, sesungguhnya sedekat apapun jarak diantara kita dan sedalam apapun perasaan kita. Namun, apabila kita tidak berjodoh, maka suatu saat nanti kita pasti akan dipisahkan oleh Nya. Aku memang menyukaimu, namun aku lebih menyukai jodohku –siapa pun dia-.”

“Jika kau ingin melihat bagaimana jodohmu, maka lihatlah amalmu sendiri. Karena, amalan jodoh kita sesungguhnya sama dengan amalan kita.”

“Semoga Allah mempertemukan kita kembali.”

“Aku yakin, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita.”

“Fiiri’ayatillah Ya Habibi, Semoga Allah Menjagamu Wahai Kekasihku.”

“Semua akan indah pada waktunya.”

Muhammad Al Fatih (Pemuda 19 tahun yang menaklukan Konstatinopel)

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hambal Al-Musnad 4/335]
muhammad-al-fatihKekaisaran Romawi terpecah dua, Katholik Roma di Vatikan dan Yunani Orthodoks di Byzantium atauConstantinople yang kini menjadi Istanbul. Perpecahan tersebut sebagai akibat konflik gereja meskipun dunia masih tetap mengakui keduanya sebagai pusat peradaban. Constantine The Greatmemilih kota di selat Bosphorus tersebut sebagai ibukota, dengan alasan strategis di batas Eropa dan Asia, baik di darat sebagai salah satu Jalur Sutera maupun di laut antara Laut Tengah dengan Laut Hitam dan dianggap sebagai titik terbaik sebagai pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik saat itu.
Yang mengincar kota ini untuk dikuasai termasuk bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, Arab-Muslim dan Pasukan Salib meskipun misi awalnya adalah menguasai Jerusalem. Arab-Muslim terdorong ingin menguasai Byzantium tidak hanya karena nilai strategisnya, tapi juga atas kepercayaan kepada hadits Rasulullah SAW melalui riwayat Hadits di atas.
Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668 M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn.
Generasi berikutnya, baik dari kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyahhingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II ayah Muhammad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkanadalah melawan Vlad Dracula, seorang tokoh Crusader (Perang Salib) yang bengis dan sadis (Dracula karya Bram Stoker adalah terinsipirasi dari tokoh Vlad Dracula ini, Insya Allah tokoh Dracula akan dibahas dalam Postingan berikutnya). Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani.
Sejak Sultan Murad I, Turki Utsmani dibangun dengan kemiliteran yang canggih, salah satunya adalah dengan dibentuknya pasukan khusus yang disebut Yanisari. Dengan pasukan militernya Turki Utsmani menguasasi sekeliling Byzantium hingga Constantinemerasa terancam, walaupun benteng yang melindungi –bahkan dua lapis– seluruh kota sangat sulit ditembus, Constantine pun meminta bantuan ke Roma, namun konflik gereja yang terjadi tidak menelurkan banyak bala bantuan.
muhammad-al-fatih1Hari Jumat, 6 April 1453 M, Muhammad IIatau disebut juga Mehmed II bersama gurunya, syaikh Aaq Syamsudin, beserta pasukannya dibawah komando Halil Pashadan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Byzantium dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 150.000 ribu pasukan dan meriam buatan Urban –teknologi baru pada saat itu–Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Constantine XI Paleologusmenjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.
Kota dengan benteng 10m-an tersebut memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7 m. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.
Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Konstantinople atau Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah pasukan Constantine mampu mempertahankan celah tersebut dan dengan cepat menumpuk kembali hingga tertutup. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki wilayah selat Golden Horn.
29 Mei, setelah sehari istirahat perang Muhammad II kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari. Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
Konstantinopel telah jatuh, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Yahudi ataupun KristenHagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.
Makanya karena prestasinya menaklukkan Konstantinopel, Muhammad II kemudian mendapat gelar “Al-Fatih”. Artinya Sang Pembebas”. Barangkali karena para pelaku sejarah sebelumnya tidak pernah berhasil melakukannya, meski telah dijanjikan nabi SAW.
Namun orang barat menyebutkan The Conqueror, artinya Sang Penakluk. Ada kesan bila menggunakan kata “Sang Penakluk” bahwa beliau seolah-olah penguasa yang keras dan kejam. Padahal gelar yang sebenarnya dalam bahasa arab adalah Al-Fatih. Berasal dari kata: fataha – yaftahu. Artinya membuka atau membebaskan. Kata ini terkesan lebih santun dan lebih beradab. Karena pada hakikatnya, yang beliau lakukan bukan sekedar penaklukan, melainkan pembebasan menuju kepada iman dan Islam.
Toleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut. Sultan kemudian membangun kembali kota, membangun sekolah –terutama sekolah untuk kepentingan administratif kota– secara gratis, siapa pun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama, membangun pasar, membangun perumahan, bahkan rumah diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah di reruntuhan kota Konstantinople atauByzantium tersebut. Hingga akhirnya kota tersebut diubah menjadi nama Islambul yang berarti “Kota Islam”. Tapi kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemalmenjadi Istanbul. Dan pencarian makam Abu Ayyub sahabat Nabi dilakukan hingga ditemukan dan dilestarikan.
Dan kini Hagia Sophia yang megah berubah fungsi menjadi museum. Jika sahabat semua berkesempatan ke Turki singgahlah kesini.