Sabtu, 07 Januari 2012
Bekas Budak yang Menjadi Ammir Kota Kuffah
Kelak salah satu kupingnya yang terpotong akan menjadi saksi di yaumil hisab betapa dirinya telah ikhlas ikut berjuang memerangi kaum murtad. Kuping sahabat yang satu ini terpotong waktu berjihad melawan pasukan murtad pimpinan Musailamah Al Kadzab di peperangan Yamamah. Dipeperangan itu ia selalu tampil terdepan dan mengobarkan semangat pasukan , pidatonya yang membuat semangat jihad kaum muslimin terus berkobar seperti “Hai Kaum Muslimin, apakah kalian akan lari dari Surga ? kemarilah bersama saya Ammar bin Yasir, kemarilah untuk menumpas pasukan murtad.!” . Dialah Amar bin Yasir, anak seorang budak yang menempati posisi tinggi diantara sederet sahabat sahabat yang lain. Waktu ia berpidato dipeperangan Yamamah tersebut tampak sebelah kupingnya telah hilang karena terpotong oleh pedang musuh. Tapi itu tidak membuat sahabat sekelas Ammar bin Yasir r.a merengek kesakitan. Bahkan pedangnya terus diayunkan dan membuat pasukan kaum murtad dibuat kewalahn. Pasukan murtad pimpinan Musailamah bukanlah pasukan kemarin sore yang mudah dikalahkan. Mereke adalah orang orang yang telah terbiasa dengan peperangan sengit. Inilah yang menjadikan perang ini begitu melelahkan. Dan Amar menyadari hal itu , karenanya ia senantiasa menyeru kawan kawannya untuk tetap melanjutkan pertempuran karena ia menyadari bagaimana bahayanya bila Musailamah tidak ditumpas dengan sesegera mungkin. Akan timbul fitnah yang makin besar dikalangan kaum muslimin. Dan akhirnya pasukan muslimin berhasil mematahkan perlawanan pasukan musuh. Dan Musailamah sendiri berhasil dibunuh oleh pasukan muslimin.
Pengorbanan yang sungguh sungguh demi tegaknya Islam ini telah menjadikan ia selalu menjadi pilihan untuk tugas tugas penting seperti mendapat amanah sebagai Amir dinegeri Kufah. Bersama dengan sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud ia berangkat ke Kufah atas perintah Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. mereka berdua menuju Kufah dengan membawa secarik kertas untuk dibacakan kepada penduduk Kufah yang berbunyi “Saya telah mengirim kepada kalian penduduk Kufah Ammar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai Bendahara dan Menteri, mereka berdua adalah orang orang pilihan dari sahabat Rasulullah dan termasuk ahlul Badar.”
Segera setelah sehari memegang amanah sebagai Amir, ia langsung melakukan tindakan tindakan yang membuat orang orang yang tamak terhadap dunia menjadi kelimpungan. Tidakk ada celah sedikitpun yang ia biarkan untuk terjadinya korupsi dan perbuatan tercela lainnya dikalangan pegawai pemerintah. Bersama dengan Abdullah ibnu Mas’ud telah terbentuk pasangan duet yang menjadikan penduduk Kufah merasa aman, damai, tercipta rasa adil dan pemerintahan yang bersih. Meski kini ia sibuk dengan urusan pemerintahan tapi tidak mengurangi keshalehan dan sikap zuhud yang senantiasa menghiasi setiap langkah hidupnya. Amir kota Kufah ini sering berbelanja dipasar seorang diri dan mengangkat sayuran diatas punggungnya sendiri tanpa dibantu oleh pengawal atau orang suruhan.
Pernah suatu hari waktu ia berjalan dipasar, ada seorang awam yang memanggilnya dengan cara mengejek dengan kata kata “ Wahai orang yang telinganya terpotong”. Amar bin Yasir selaku amir dinegeri itu menjawab “ Sesungguhnya telinga yang kamu ejek ini adalah telinga terbaik yang aku punya”.
Ini adalah contoh dari perilaku agung yang dimiliki sahabat. Mereka bangga memiliki kekurangan tubuh/fisik bila cacat itu disebabkan oleh luka yang diperolah dalam rangka berjihad dijalan Allah. Adakah kita pernah terpikir untuk memahami apa yang menjadi kebanggaan mereka. Kelak apa yang akan kita setor dihadapan Mahkamah akhirat bila ditanya “apa yang telah kamu lakukan untuk memperjuangkan agama Allah ??”
Pengorbanan yang sungguh sungguh demi tegaknya Islam ini telah menjadikan ia selalu menjadi pilihan untuk tugas tugas penting seperti mendapat amanah sebagai Amir dinegeri Kufah. Bersama dengan sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud ia berangkat ke Kufah atas perintah Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. mereka berdua menuju Kufah dengan membawa secarik kertas untuk dibacakan kepada penduduk Kufah yang berbunyi “Saya telah mengirim kepada kalian penduduk Kufah Ammar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai Bendahara dan Menteri, mereka berdua adalah orang orang pilihan dari sahabat Rasulullah dan termasuk ahlul Badar.”
Segera setelah sehari memegang amanah sebagai Amir, ia langsung melakukan tindakan tindakan yang membuat orang orang yang tamak terhadap dunia menjadi kelimpungan. Tidakk ada celah sedikitpun yang ia biarkan untuk terjadinya korupsi dan perbuatan tercela lainnya dikalangan pegawai pemerintah. Bersama dengan Abdullah ibnu Mas’ud telah terbentuk pasangan duet yang menjadikan penduduk Kufah merasa aman, damai, tercipta rasa adil dan pemerintahan yang bersih. Meski kini ia sibuk dengan urusan pemerintahan tapi tidak mengurangi keshalehan dan sikap zuhud yang senantiasa menghiasi setiap langkah hidupnya. Amir kota Kufah ini sering berbelanja dipasar seorang diri dan mengangkat sayuran diatas punggungnya sendiri tanpa dibantu oleh pengawal atau orang suruhan.
Pernah suatu hari waktu ia berjalan dipasar, ada seorang awam yang memanggilnya dengan cara mengejek dengan kata kata “ Wahai orang yang telinganya terpotong”. Amar bin Yasir selaku amir dinegeri itu menjawab “ Sesungguhnya telinga yang kamu ejek ini adalah telinga terbaik yang aku punya”.
Ini adalah contoh dari perilaku agung yang dimiliki sahabat. Mereka bangga memiliki kekurangan tubuh/fisik bila cacat itu disebabkan oleh luka yang diperolah dalam rangka berjihad dijalan Allah. Adakah kita pernah terpikir untuk memahami apa yang menjadi kebanggaan mereka. Kelak apa yang akan kita setor dihadapan Mahkamah akhirat bila ditanya “apa yang telah kamu lakukan untuk memperjuangkan agama Allah ??”
Bahaya Ghibah
Ghibah adalah perbuatan yang tercela tapi sangat ringan untuk dilaksanakan, demikian ringannya ghibah dilakukan hingga Ummul mukminin Aisyah r.a tanpa sadar telah berghibah kepada seorang wanita yang mengunjungi Nabi dan mengatakan” Pendek amat wanita itu”. Ghibah dapat mencerai-beraikan ikatan kasih sayang dan ukhuwah sesama manusia..
Rasulullah SAW bersabda “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya ?” Rasulullah memenjawab, “kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada).” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).
Imam an-Nawawi berkata dalam al-Adzkar, ” ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai, sama saja apakah menyangkut tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orang tuanya, istrinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannya, senyumnya, muka masamnya, atau yang selainnya dari perkara yang menyangkut diri orang tersebut. Sama saja apakah engkau menyebut tentang orang tersebut dengan bibirmu, atau tulisanmu, isyarat matamu, isyarat tanganmu, isyarat kepalamu atau yang semisalnya”
Dalam suatu perjalanan dalam jihad fisabilillah Rasulullah SAW telah menetapkan keputusan bahwa bila ada dua orang yang mampu maka hendaklah ia menanggung satu orang yang tidak mampu.
Perjalanan berlangsung amat melelahkan dan ketika senja beranjak mereka mendirikan tenda. Merasa sangat lelah Sahabat Salman Al Farisi langsung berselonjor istirahat. Tak terasa kantuk menyerang dengan sangat cepat dan ia tidur dengan pulas. Ketika itu dua orang temannya yang kaya dan yang menanggung perjalannya sedang sibuk memasak tanpa bantuan Salman Al Farisi sedikitpun,lalu seseorang diantar mereka berkata : “Apakah maksud orang ini, hanya mau datang kekemah yang sudah didirikan kemudian langsung tidur dan hanya makan makanan yang sudah siap?”. Selang berapa waktu Salman terbangun dan didapatinya makanan telah siap tapi belum ada lauk pauk yang dapat dijadikan penambah selera makanan. Kemudian mereka berkata kepada Salman: “Pergilah engkau kepada Nabi Muhammad SAW. minta lauk pauk untuk kami.” Maka pergilah Salman menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. permintaan mereka. Nabi Muhammad SAW . bersabda kepada Salman: “Beritahulah kepada mereka bahawa mereka telah makan lauk pauk.” Maka kembalilah Salman kepada kawan-kawannya dan memberitahu apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW , mereka berkata: “Kami belum makan apa-apa.” Salman berkata: “Nabi Muhammad SAW. tidak berdusta dalam sabdanya.” .merasa sedikit kesal kedua orang itu pergi menghadap Nabi SAW dan menanyakan lauk pauk yang belum mereka dapatkan sebagai jatah hari itu.Lalu dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW .:”Kamu telah makan daging saudaramu ketika kamu membicarakan (ghibah) padanya diwaktu ia sedang tidur.” Lalu Nabi Muhammad SAW . membacakan Surah Alhujuraat ayat 12 (Yang berbunyi):
“Ya ayyuhalladzina aamanuuj tanibu katsira minadhdhanni inna ba’dhadhdhaani its mun wala tajassanu, wala yagh tabba’dhukum ba’dha, a yuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhihi maita fakarih tumuuhu.”
(Yang artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakkan sangka-sangka, sebab sebahagian dari sangka-sangka itu dosa. Dan jangan menyelidiki kesalahan orang lain dan jangan ghibah (membicarakan hal orang lain) setengahmu pada setengahnya, apakah suka salah satu sekiranya makan daging saudara yang telah mati, tentu kamu jijik (tidak suka).”
Rasulullah SAW bersabda “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya ?” Rasulullah memenjawab, “kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada).” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).
Imam an-Nawawi berkata dalam al-Adzkar, ” ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai, sama saja apakah menyangkut tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orang tuanya, istrinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannya, senyumnya, muka masamnya, atau yang selainnya dari perkara yang menyangkut diri orang tersebut. Sama saja apakah engkau menyebut tentang orang tersebut dengan bibirmu, atau tulisanmu, isyarat matamu, isyarat tanganmu, isyarat kepalamu atau yang semisalnya”
Dalam suatu perjalanan dalam jihad fisabilillah Rasulullah SAW telah menetapkan keputusan bahwa bila ada dua orang yang mampu maka hendaklah ia menanggung satu orang yang tidak mampu.
Perjalanan berlangsung amat melelahkan dan ketika senja beranjak mereka mendirikan tenda. Merasa sangat lelah Sahabat Salman Al Farisi langsung berselonjor istirahat. Tak terasa kantuk menyerang dengan sangat cepat dan ia tidur dengan pulas. Ketika itu dua orang temannya yang kaya dan yang menanggung perjalannya sedang sibuk memasak tanpa bantuan Salman Al Farisi sedikitpun,lalu seseorang diantar mereka berkata : “Apakah maksud orang ini, hanya mau datang kekemah yang sudah didirikan kemudian langsung tidur dan hanya makan makanan yang sudah siap?”. Selang berapa waktu Salman terbangun dan didapatinya makanan telah siap tapi belum ada lauk pauk yang dapat dijadikan penambah selera makanan. Kemudian mereka berkata kepada Salman: “Pergilah engkau kepada Nabi Muhammad SAW. minta lauk pauk untuk kami.” Maka pergilah Salman menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. permintaan mereka. Nabi Muhammad SAW . bersabda kepada Salman: “Beritahulah kepada mereka bahawa mereka telah makan lauk pauk.” Maka kembalilah Salman kepada kawan-kawannya dan memberitahu apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW , mereka berkata: “Kami belum makan apa-apa.” Salman berkata: “Nabi Muhammad SAW. tidak berdusta dalam sabdanya.” .merasa sedikit kesal kedua orang itu pergi menghadap Nabi SAW dan menanyakan lauk pauk yang belum mereka dapatkan sebagai jatah hari itu.Lalu dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW .:”Kamu telah makan daging saudaramu ketika kamu membicarakan (ghibah) padanya diwaktu ia sedang tidur.” Lalu Nabi Muhammad SAW . membacakan Surah Alhujuraat ayat 12 (Yang berbunyi):
“Ya ayyuhalladzina aamanuuj tanibu katsira minadhdhanni inna ba’dhadhdhaani its mun wala tajassanu, wala yagh tabba’dhukum ba’dha, a yuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhihi maita fakarih tumuuhu.”
(Yang artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakkan sangka-sangka, sebab sebahagian dari sangka-sangka itu dosa. Dan jangan menyelidiki kesalahan orang lain dan jangan ghibah (membicarakan hal orang lain) setengahmu pada setengahnya, apakah suka salah satu sekiranya makan daging saudara yang telah mati, tentu kamu jijik (tidak suka).”
Lima Hal Yang Diingat Umar Bin Khatab r.a atas Kecerewetan Sang Istri
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab r.a. Ia ingin mengadu pada Khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun.
Dari dalam rumah terdengar istri Khalifah Umar bin Khatab r.a sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Apa yang membuat seorang Khalifah Umar bin Khatab r.a yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?
Umar berdiam diri karena ingat 5 hal.
1. Istri adalah Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya.
Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari.
Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.
2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja dan berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.
Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.
3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaiannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu
4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Khalifah Umar bin Khatab r.a paham benar akan hal itu.
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Khalifah Umar bin Khatab r.a kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.
Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Khalifah Umar bin Khatab r.a ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya
Sabtu, 31 Desember 2011
Mengenal 12 istri Rasulullah Saw ( Ummul Mukminin )
1 SITI KHADIJAH (Ummul Mukminin pertama).
Lahir di Mekkah tahun 556, Khadijah adalah wanita pertama pemeluk Islam. Ketika disunting RasuluLlah SAW, ia seorang janda berusia 40 tahun. Berasal dari keluarga terpandang dan ia sendiri menjadi orang terkaya di kotanya. Sedangkan RasuluLlah SAW masih muda, berusia sekitar 25 tahun dan dari keluarga miskin. Keinginan perkawinan itu datang dari pihak Khadijah.
Setelah menikah, semua kekayaan Khadijah dipergunakan sepenuhnya untuk mendukung dakwah RasuluLlah SAW. Juga, karena kewibawaannya di hadapan suku Quraisy, ia pun menjadi pelindung RasuluLlah SAW dari ancaman orang-orang Quraisy.
Rasulullah SAW sangat mencintai Khadijah. Meskipun Khadijah sudah meninggal beberapa tahun, RasuluLlah SAW masih tetap mengenang. Sehingga pernah isterinya yang lain –Aisyah– memprotes cemburu. “Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman padaku saat semua orang ingkar, yang percaya padaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan hartanya saat semua berusaha mempertahankannya;… dan darinyalah aku mendapatkan keturunan,” kata RasuluLlah SAW di hadapan Aisyah.
Lahir di Mekkah tahun 556, Khadijah adalah wanita pertama pemeluk Islam. Ketika disunting RasuluLlah SAW, ia seorang janda berusia 40 tahun. Berasal dari keluarga terpandang dan ia sendiri menjadi orang terkaya di kotanya. Sedangkan RasuluLlah SAW masih muda, berusia sekitar 25 tahun dan dari keluarga miskin. Keinginan perkawinan itu datang dari pihak Khadijah.
Setelah menikah, semua kekayaan Khadijah dipergunakan sepenuhnya untuk mendukung dakwah RasuluLlah SAW. Juga, karena kewibawaannya di hadapan suku Quraisy, ia pun menjadi pelindung RasuluLlah SAW dari ancaman orang-orang Quraisy.
Rasulullah SAW sangat mencintai Khadijah. Meskipun Khadijah sudah meninggal beberapa tahun, RasuluLlah SAW masih tetap mengenang. Sehingga pernah isterinya yang lain –Aisyah– memprotes cemburu. “Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman padaku saat semua orang ingkar, yang percaya padaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan hartanya saat semua berusaha mempertahankannya;… dan darinyalah aku mendapatkan keturunan,” kata RasuluLlah SAW di hadapan Aisyah.
Dari Khadijah, Nabi mendapat kurnia 7 anak: 3 putra dan 4 putri. Yang putra bernama al-Qasim, Abdullah, dan (Thaher, meninggal ketika masih bayi). Sedangkan yang putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum dan Fatimah. Sebelum dengan Nabi, Khadijah pernah menikah dengan Abu Halal an-Nabbasy bin Zurarah. Dari Abu Halal, Khadijah mendapat seorang anak.
Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah menikah lagi dengan Atiq bin Abid al-Makhzumi. Sampai Atiq meninggal, mereka tidak dikurnia anak. Ummul mukminin al-Kubra (Ibu Kaum Mukminin yang Agung) ini sendiri meninggal pada 619 H.
2. SAUDAH BINTI ZUM’AH (Ummul Mukminin kedua).
Setelah Khadijah meninggal, Nabi baru bersedia menikah lagi. Saudah juga seorang janda. Suaminya, as-Sakran bin Amru al-Amiri, meninggal ketika hijrah ke Habsyi (Ethiopia).
Saudah sangat berduka ditinggal suaminya itu. Untuk mengobati duka itu, atas saran seorang wanita Khaulah binti Hakim As, Rasulullah SAW lantas meminang Saudah. Meskipun RasuluLlah SAW juga menyayangi Saudah, tetapi ternyata hatinya tidak mampu mencintai wanita ini. Karena merasa berdosa, RasuluLlah SAW lantas ingin menceraikan Saudah. Tapi apa kata Saudah, “Biarlah RasuluLlah SAW aku begini. Aku rela malamku untuk Aisyah (Ummul Mukminin ke tiga Nabi). Aku sudah tidak membutuhkan lagi.”
Saudah wafat dimasa kekhalifahan Umar bin Khaththab hampir berakhir.
3. AISYAH BINTI ABU BAKAR (Ummul Mukminin ketiga).
Satu-satunya isteri Nabi yang masih gadis, ketika dinikahi Nabi. Putri sahabat Nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq ini dilahirkan 8 atau 9 tahun sebelum Hijrah.
Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah menikah lagi dengan Atiq bin Abid al-Makhzumi. Sampai Atiq meninggal, mereka tidak dikurnia anak. Ummul mukminin al-Kubra (Ibu Kaum Mukminin yang Agung) ini sendiri meninggal pada 619 H.
2. SAUDAH BINTI ZUM’AH (Ummul Mukminin kedua).
Setelah Khadijah meninggal, Nabi baru bersedia menikah lagi. Saudah juga seorang janda. Suaminya, as-Sakran bin Amru al-Amiri, meninggal ketika hijrah ke Habsyi (Ethiopia).
Saudah sangat berduka ditinggal suaminya itu. Untuk mengobati duka itu, atas saran seorang wanita Khaulah binti Hakim As, Rasulullah SAW lantas meminang Saudah. Meskipun RasuluLlah SAW juga menyayangi Saudah, tetapi ternyata hatinya tidak mampu mencintai wanita ini. Karena merasa berdosa, RasuluLlah SAW lantas ingin menceraikan Saudah. Tapi apa kata Saudah, “Biarlah RasuluLlah SAW aku begini. Aku rela malamku untuk Aisyah (Ummul Mukminin ke tiga Nabi). Aku sudah tidak membutuhkan lagi.”
Saudah wafat dimasa kekhalifahan Umar bin Khaththab hampir berakhir.
3. AISYAH BINTI ABU BAKAR (Ummul Mukminin ketiga).
Satu-satunya isteri Nabi yang masih gadis, ketika dinikahi Nabi. Putri sahabat Nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq ini dilahirkan 8 atau 9 tahun sebelum Hijrah.
Setelah Khadijah, Aisyahlah isteri yang paling dekat dengan Nabi. Cantik dan cerdas, begitu penampilannya. Karena kedekatan dan kecerdasannya itu, setelah Nabi wafat, banyak hadist yang ia riwayatkan. Terutama soal wanita dan keluarga. Ada 1.210 hadith yang diriwayatkan Aisyah, di antaranya 228 terdapat dalam hadith shahih Bukhari.
Selama mendampingi Nabi, Aisyah pernah dilanda fitnah hebat. Ceritanya, pada peperangan melawan Bani Mustaliq, berdasarkan undian di antara isteri-isteri Nabi, Aisyah terpilih mendampingi Nabi. Dalam perjalanan pulang, rombongan istirahat pada suatu tempat Aisyah turun dari sekedupnya (sejenis pelana yang beratap di atas punuk unta), karena ada keperluan. Kemudian kembali. Tetapi ada yang ketinggalan, ia kembali lagi untuk mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan perkiraan bahwa Aisyah sudah ada di sekedupnya. Aisyah tertinggal.
Ketika sahabat Nabi, Safwan bin Buattal menemuinya, Aisyah sudah tertidur. Akhirnya, ia pergi diantar Safwan. Peristiwa ini kemudian dimanfaatkan orang-orang kafir untuk menghantam Nabi. Disebarkan fitnah, Aisyah telah serong. Fitnah ini benar-benar meresahkan ummat. Bahkan Nabi sendiri sempat goyah kepercayaannya pada Aisyah. Sehingga turunlah wahyu surat An Nuur ayat 11. Inti wahyu itu, menegur Nabi dan membenarkan Aisyah.
Aisyah wafat pada malam Selasa, 17 Ramadhan 57 H, dalam usia 66 tahun. Shalat jenazahnya diimami oleh Abu Hurairah dan dimakamkan di Ummahat al-Mukminin di Baqi (sebelah Masjid Madinah) bersama Ummul Mukminin lainnya.
4. HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat).
Hafsah adalah janda Khunais bin Huzafah, sahabat RasuluLlah SAW yang meninggal ketika perang Uhud.
Hafsah adalah janda Khunais bin Huzafah, sahabat RasuluLlah SAW yang meninggal ketika perang Uhud.
Rasulullah SAW menikahi Hafsah, kerena kasihan kepada Umar bin Khattab –ayah Hafsah. Hafsah sedih ditinggal suaminya, apalagi usianya baru 18 tahun. Melihat kesedihan itu, Umar berniat mencarikan suami lagi.
Pilihannya jatuh kepada sahabatnya yang juga orang kepercayaan RasuluLlah SAW, yakni Abu Bakar. Tapi ternyata Abu Bakar hanya diam saja. Dengan perasaan kecewa atas sikap Abu Bakar itu, Umar menemui Usman bin Affan, dengan maksud yang sama. Ternyata Usman juga menolak, karena dukanya atas kematian isterinya, belum hilang. Isteri Usman adalah putri RasuluLlah SAW sendiri, Ruqayyah.
Lalu Umar mengadu kepada RasuluLlah SAW. Melihat sahabatnya yang marah dan sedih itu, RasuluLlah SAW ingin menyenangkannya, lantas berkata “Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Usman, dan Usman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafsah.” Tak lama kemudian, Hafsah dinikahi RasuluLlah SAW, sedang Usman dengan Ummu Kalsum, putri RasuluLlah SAW juga.
Suatu malam di kamar Hafsah, RasuluLlah SAW sedang berdua dengan isterinya yang lain, Maria. Hafsah cemburu berat, lantas menceritakan kepada Aisyah. Aisyah kemudian memimpin isteri-isteri yang lain, protes kepada RasuluLlah SAW.
Suatu malam di kamar Hafsah, RasuluLlah SAW sedang berdua dengan isterinya yang lain, Maria. Hafsah cemburu berat, lantas menceritakan kepada Aisyah. Aisyah kemudian memimpin isteri-isteri yang lain, protes kepada RasuluLlah SAW.
RasuluLlah SAW sangat marah dengan ulah isteri-isterinya itu. Saking marahnya, beliau tinggalkan mereka selama satu bulan. Terhadap kasus ini, kemudian Allah menurunkan wahyu surat at-Tahrim ayat 1-5.
Sejarah mencatat, Hafsahlah yang dipilih di antara isteri-isteri RasuluLlah SAW untuk menyimpan naskah pertama al-Qur’an. Hafsah wafat pada awal pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dimakamkan di Ummahat al-Mu’minin di Baqi.
5. ZAINAB BINTI KHUZAIMAH (Ummul Mukminin kelima).
Di antara isteri-isteri RasuluLlah SAW, Zainablah yang wafat lebih dulu, setelah Khadijah. Para sejarawan tidak banyak tahu tentang Zainab, termasuk latar belakangnya. Tapi yang jelas ia juga seorang janda saat dinikahi RasuluLlah SAW.
Di antara isteri-isteri RasuluLlah SAW, Zainablah yang wafat lebih dulu, setelah Khadijah. Para sejarawan tidak banyak tahu tentang Zainab, termasuk latar belakangnya. Tapi yang jelas ia juga seorang janda saat dinikahi RasuluLlah SAW.
Hidupnya bersama RasuluLlah SAW, hanya singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab terkenal dengan julukan Ummul Masaakiin, karena kedermawanannya terhadap kaum miskin. Zainab meninggal, ketika RasuluLlah SAW masih hidup. Dan RasuluLlah SAW sendiri menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama kali dimakamkan di Baqi.
6. UMMU SALAMAH (Ummul Mukminin keenam).
Nama aslinya, Hindun binti Abu Umayah bin Mughirah. Suaminya bernama Abdullah bin Abdul Asad. Abdullah atau dipanggil Abu Salamah, meninggal ketika perang melawan Bani As’ad yang akan menyerang Madinah. Sebelum meninggal Abu Salamah berwasiat, agar isterinya ada yang menikahi dan orang itu harus lebih baik dari dirinya.
Nama aslinya, Hindun binti Abu Umayah bin Mughirah. Suaminya bernama Abdullah bin Abdul Asad. Abdullah atau dipanggil Abu Salamah, meninggal ketika perang melawan Bani As’ad yang akan menyerang Madinah. Sebelum meninggal Abu Salamah berwasiat, agar isterinya ada yang menikahi dan orang itu harus lebih baik dari dirinya.
Abu Bakar ingin melaksanakan wasiat itu, dengan meminang Ummu Salamah tapi ditolak. Demikian pula Umar bin Khattab, juga ditolak. Tiada lain, RasuluLlah SAW sendiri akhirnya yang maju. Dan diterima. Ketika itu umur Ummu Salamah hanya beberapa tahun dibawah RasuluLlah SAW dan sudah beranak empat.
Sejarah mencatat, surat at-Taubah 102 turun tatkala RasuluLlah SAW sedang berbaring di kamarnya Ummu Salamah. Dalam perjanjian Hudaibiyah, Umum Salamah punya peranan penting.
Banyak sahabat RasuluLlah SAW yang protes terhadap perjanjian itu, termasuk Umar. Usai perjanjian ditandatangani, RasuluLlah SAW memerintahkan para sahabat agar menyembelih ternak dan memotong rambut. Namun tidak ada yang melakukan seruan itu. RasuluLlah SAW mengulangnya sampai tiga kali, tapi tetap tidak ada yang menyahut. Dengan kesal dan marah kembali ke kemahnya.
Ummu Salamah lantas usul, agar RasuluLlah SAW jangan hanya bicara, langsung saja contoh. Benar juga, RasuluLlah SAW lantas keluar menyembelih ternak dan menyuruh pembantu memotong rambut beliau. Kaum muslimin kemudian banyak yang mengikuti rindakan RasuluLlah SAW ini, karena takut dikatakan tidak mengikuti sunnah RasuluLlah SAW. Ummu Salamah banyak mengikuti peperangan. Ia hidup sampai usia lanjut. Ia wafat setelah peristiwa Karbala, yakni terbunuhnya Husein, cucu RasuluLlah SAW. Ummu Salamah adalah Ummahatul Mukminin yang paling akhir wafatnya.
7. ZAINAB BINTI JAHSY (Ummul Mukminin ketujuh).
Zainab adalah bekas isteri Zaid bin Haritsah yang telah bercerai. Sedang Zaid adalah anak angkat RasuluLlah SAW. Zainab sendiri dengan RasuluLlah SAW juga masih bersaudara. Karena wanita ini adalah cucu Abdul Muthalib, kakek RasuluLlah SAW (baca Sejarah, Sahid, April l997).
Meski perkawinan Zainab dengan Nabi jelas-jelas perintah Allah, tapi gosip menyelimuti perkawinan mereka. Wahyu yang memerintah Nabi agar menikahi Zainab itu ada pada al-Ahzab 37. Dari perkawinan inilah kemudian turun hukum-hukum pernikahan, termasuk perintah hijab (al-Ahzab 53).
8. JUWAIRIAH BINTI HARITS (Ummul Mukminin kelapan).
Nama sebenarnya adalah Barrah binti Harits bin Abi Dhirar, putri pimpinan pemberontak dari suku Bani Musthalaq, Harits bin Dhirar. Setelah menikah dengan Nabi berganti nama Juwairiah. Sebelumnya, Juwairiah adalah tawanan perang.
Zainab adalah bekas isteri Zaid bin Haritsah yang telah bercerai. Sedang Zaid adalah anak angkat RasuluLlah SAW. Zainab sendiri dengan RasuluLlah SAW juga masih bersaudara. Karena wanita ini adalah cucu Abdul Muthalib, kakek RasuluLlah SAW (baca Sejarah, Sahid, April l997).
Meski perkawinan Zainab dengan Nabi jelas-jelas perintah Allah, tapi gosip menyelimuti perkawinan mereka. Wahyu yang memerintah Nabi agar menikahi Zainab itu ada pada al-Ahzab 37. Dari perkawinan inilah kemudian turun hukum-hukum pernikahan, termasuk perintah hijab (al-Ahzab 53).
8. JUWAIRIAH BINTI HARITS (Ummul Mukminin kelapan).
Nama sebenarnya adalah Barrah binti Harits bin Abi Dhirar, putri pimpinan pemberontak dari suku Bani Musthalaq, Harits bin Dhirar. Setelah menikah dengan Nabi berganti nama Juwairiah. Sebelumnya, Juwairiah adalah tawanan perang.
Riwayat selanjutnya tak banyak diketahui oleh para sejarawan. Hanya ia meninggal dalam usia 65 tahun, di Madinah, pada masa Muawiyah. Dishalatkan dengan Imam Amir Madinah yaitu Marwan bin Hakam.
9. SOFIYAH BINTI HUYAI (Ummul Mukminin kesembilan).
Satu-satunya isteri Nabi dari golongan Yahudi ya Sofiyah ini. Sofiyah masih keturunan Nabi Harun dan ibunya Barrah binti Samual. Meski usianya baru 17 tahun, tapi ia sudah dua kali menikah. Pertama dengan Salam bin Masyham, dan kedua dengan Kinanah bin Rabi bin Abil Haqiq, pemimpin benteng Qumus, benteng terkuat di Khaibar, markasnya kaum Yahudi.
Dikawininya Sofiyah itu, Nabi sebenarnya berharap agar kebencian kaum Yahudi kepada kaum muslimin dapat diredam. Sofiyah wafat tahun 50 Hijriah, pada zaman Mua’wiyah. Dimakamkan di Baqi.
10. UMMU HABIBAH BINTI SOFYAN (Ummul Mukminin kesepuluh).
Nama sebenarnya Ramlah binti Abi Sofyan. Ia memang putri pemimpin Quraisy, Abu Sofyan, musuh bebuyutan Islam itu. Habibah adalah nama putri Ramlah hasil perkawinan dengan Ubaidillah, saudara Ummul Mukminin Zainab ra. Tentu saja Ramlah telah masuk Islam.
Berdua dengan suaminya, ia kemudian hijrah ke Habsyi (Afrika). Celakanya, sesampai di Habsyi suaminya murtad, masuk Nasrani. Selanjutnya, Ramlah dinikahi RasuluLlah SAW. Mendengar ini, betapa marahnya Abu Sofyan, putrinya sendiri masuk Islam dan sekarang kawin dengan musuh besarnya, Nabi Muhammad SAW.
9. SOFIYAH BINTI HUYAI (Ummul Mukminin kesembilan).
Satu-satunya isteri Nabi dari golongan Yahudi ya Sofiyah ini. Sofiyah masih keturunan Nabi Harun dan ibunya Barrah binti Samual. Meski usianya baru 17 tahun, tapi ia sudah dua kali menikah. Pertama dengan Salam bin Masyham, dan kedua dengan Kinanah bin Rabi bin Abil Haqiq, pemimpin benteng Qumus, benteng terkuat di Khaibar, markasnya kaum Yahudi.
Dikawininya Sofiyah itu, Nabi sebenarnya berharap agar kebencian kaum Yahudi kepada kaum muslimin dapat diredam. Sofiyah wafat tahun 50 Hijriah, pada zaman Mua’wiyah. Dimakamkan di Baqi.
10. UMMU HABIBAH BINTI SOFYAN (Ummul Mukminin kesepuluh).
Nama sebenarnya Ramlah binti Abi Sofyan. Ia memang putri pemimpin Quraisy, Abu Sofyan, musuh bebuyutan Islam itu. Habibah adalah nama putri Ramlah hasil perkawinan dengan Ubaidillah, saudara Ummul Mukminin Zainab ra. Tentu saja Ramlah telah masuk Islam.
Berdua dengan suaminya, ia kemudian hijrah ke Habsyi (Afrika). Celakanya, sesampai di Habsyi suaminya murtad, masuk Nasrani. Selanjutnya, Ramlah dinikahi RasuluLlah SAW. Mendengar ini, betapa marahnya Abu Sofyan, putrinya sendiri masuk Islam dan sekarang kawin dengan musuh besarnya, Nabi Muhammad SAW.
Sampai akhir hayatnya, Ramlah tetap membela Islam dan suaminya. Ia wafat pada usia 60 tahun. Juga dimakamkan di Baqi.
11. MARIAH AL QIBTIYAH (Ummul Mukminin kesebelas).
Mariah sebelumnya adalah budak kiriman dari raja Mesir. Kemudian diangkat derajatnya dengan dijadikan isteri Nabi. Setelah Khadijah, Mariah satu-satunya isteri Nabi yang melahirkan anak. Namanya Ibrahim bin Nabi Muhammad SAW. Cuma, sayangnya Ibrahim meninggal. RasuluLlah SAW sangat sedih dengan kematian putranya itu.
Mariah sebelumnya adalah budak kiriman dari raja Mesir. Kemudian diangkat derajatnya dengan dijadikan isteri Nabi. Setelah Khadijah, Mariah satu-satunya isteri Nabi yang melahirkan anak. Namanya Ibrahim bin Nabi Muhammad SAW. Cuma, sayangnya Ibrahim meninggal. RasuluLlah SAW sangat sedih dengan kematian putranya itu.
Mariah wafat pada tahun 16 hijriah. Dishalatkan oleh Amir Mukminin Umar bin Khattab.
12. MAIMUNAH BINTI AL HARITS (Ummul Mukminin kedua belas).
Nama aslinya adalah Barrah binti Harits. Setelah menikah dengan Nabi, diganti dengan Maimunah. Perkawinan ini –Barrah ketika itu janda berumur 26 tahun– sesungguhnya atas permintaan paman Nabi, yakni Abbas bin Abdul Muthalib. Barrah sendiri adalah adik dari isteri Abbas. Tidak banyak yang diketahui sejarah Barrah. Yang jelas ia wafat pada tahun 51 hijriah..
Nama aslinya adalah Barrah binti Harits. Setelah menikah dengan Nabi, diganti dengan Maimunah. Perkawinan ini –Barrah ketika itu janda berumur 26 tahun– sesungguhnya atas permintaan paman Nabi, yakni Abbas bin Abdul Muthalib. Barrah sendiri adalah adik dari isteri Abbas. Tidak banyak yang diketahui sejarah Barrah. Yang jelas ia wafat pada tahun 51 hijriah..
Rabu, 28 Desember 2011
Tersenyumlah...
Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad saw., Anda tidak akan pernah berhenti kagum melihat kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau saw. Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya, sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad saw. dalam dakwah dan perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibiruntuk selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam.
Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok pengalang di antara anak manusia!. Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam Al Qur’an tentang kisah Nabi Sulaiman as, ketika Ia berkata kepada seekor semut,
“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. An Naml:19
Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Muhammad saw., dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya. Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun.
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.”
Suatu ketika Muhammad saw. didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad saw., sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka.
Ka’ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka:
“Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.”
Suatu ketika Muhammad saw. melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka.
Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci, sampai akhir detik-detik hayat beliau.
Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Ketika kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw. yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!”
Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabat-shabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya!
Menyentuh Hati
Muhammad saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau saw. mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan. Rasulullah saw. bersabda,
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam sahihnya.
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek beliau langsung ini, namun Anda masih banyak melihat sebagaian manusia masih berlaku keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan tidak menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian manusia -karena bersikap cemberut dan muka masam- mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! Sungguh jauh mereka dari contoh Nabi muhammad saw.!
Ya, kadang Anda melewati jam-jam Anda dengan dirundung duka, atau disibukkan beragam pekerjaan, akan tetapi Anda selalu bermuka masam, cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah, maka demi Allah, ini adalah perilaku keras hati, yang semestinya tidak terjadi. Wal iyadzubillah.
Pengaruh Senyum
Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyuman, mengaitkan dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengkaitkannya boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun, seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai senyuman sangat besar pengaruhnya.
Dale Carnegie dalam bukunya yang terkenal, “Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia” menceritakan:
“Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”
Ia melanjutkan, “Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, “Saya pilih tersenyum kepada istriku, ia tidak tau sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayanan- kepada saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.”
Kegembiraan meluap ketika Carnegie menambahkan, “Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, bahkan membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justeru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.”
Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang mulia ini kepada umat. Dengan niat taqarrub ilallah -pendekatan diri kepada Allah swt.- lewat senyuman, dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan senyuman, menahan sedekah ini, dengan selalu bermuka masam dan cemberut dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar.
Orang yang selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam berarti mengharamkan menikmati dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau menebar senyum, selamanya ia akan senang dan gembira. Allahu a’lam
Selasa, 27 Desember 2011
Hanzhalah bin Abu Amir : Ku Tinggalkan Bulan Madu, Tuk Meraih Syahid
Hanzhalah bin Abu Amir, adalah anak pemimpin suku Aus yang terbilang kaya di Yastrib (Madinah), ayahnya Abu Amir bin Shaifi adalah orang yang sangat benci kepada Islam, yang pada zaman Jahiliyah dia mendapat julukan Abu Amir sang pendeta, tapi julukan itu berubah menjadi Abu Amir lelaki fasik setelah Islam menguasai Yastrib (Madinah).
Dan ketika cahaya Islam telah diraihnya ia pun menikah dengan Jamillah binti Abdullah bin Ubay bin Salul anak sahabat bapaknya yang dikenal sebagai tokoh munafik. Ia adalah pemuda sederhana yang tumbuh menjadi sosok yang tidak pernah ‘minder’ dan gampang putus asa, ia tidak merasa gentar kala harus membela kebenaran Islam yang dibawa Muhammad, walaupun ia harus berhadapan dengan bapaknya sendiri.
Rasa Takut Hanzholah ra Terhadap Sifat Munafik
Hanzhalah r.a bercerita, “Suatu hari kami menghadiri Majelis Rasulullah Saw. beliau memberikan nasihat kepada kami, nasihat itu membuat hati kami lembut sehingga kami menangis mencucurkan air mata, seolah-olah kami melihat surga dan neraka seperti yang diceritakan oleh Beliau. Sepulangnya dari Majelis Rasulullah Saw saya kembali ke rumah menemui anak isteri saya. Lalu bercanda dengan anak-anak dan bercumbu dengan isteri saya, kemudian kami mulai membicarakan masalah keduniaan. Suasana di rumah beda sekali dengan suasana di majelis Majelis Rasulullah Saw jika tadi saya merasa takut, tapi kini saya merasa gembira. Tiba-tiba saya berkata dalam hati, “Hanzhalah, engkau kini telah menjadi munafik. Nyatanya, keadaanmu ketika berada dihadapan Rasulullah Saw jauh berbeda dengan keadaan sekarang ketika kamu berada di rumah. “
Dan ketika cahaya Islam telah diraihnya ia pun menikah dengan Jamillah binti Abdullah bin Ubay bin Salul anak sahabat bapaknya yang dikenal sebagai tokoh munafik. Ia adalah pemuda sederhana yang tumbuh menjadi sosok yang tidak pernah ‘minder’ dan gampang putus asa, ia tidak merasa gentar kala harus membela kebenaran Islam yang dibawa Muhammad, walaupun ia harus berhadapan dengan bapaknya sendiri.
Rasa Takut Hanzholah ra Terhadap Sifat Munafik
Hanzhalah r.a bercerita, “Suatu hari kami menghadiri Majelis Rasulullah Saw. beliau memberikan nasihat kepada kami, nasihat itu membuat hati kami lembut sehingga kami menangis mencucurkan air mata, seolah-olah kami melihat surga dan neraka seperti yang diceritakan oleh Beliau. Sepulangnya dari Majelis Rasulullah Saw saya kembali ke rumah menemui anak isteri saya. Lalu bercanda dengan anak-anak dan bercumbu dengan isteri saya, kemudian kami mulai membicarakan masalah keduniaan. Suasana di rumah beda sekali dengan suasana di majelis Majelis Rasulullah Saw jika tadi saya merasa takut, tapi kini saya merasa gembira. Tiba-tiba saya berkata dalam hati, “Hanzhalah, engkau kini telah menjadi munafik. Nyatanya, keadaanmu ketika berada dihadapan Rasulullah Saw jauh berbeda dengan keadaan sekarang ketika kamu berada di rumah. “
Saya merasa sangat sedih dan kecewa terhadap diri saya. Saya pun keluar rumah dan berkata, “Hanzhalah telah menjadi munafik.“ Ketika saya bertemu dengan Abu bakar, saya terus berkata demikian. Abu Bakar berkata, “Subhanallah! Apa yang engkau katakan?. Sekali-kali Hanzhalah bukanlah seorang munafik . “
Saya berkata, “ketika kita mendengar nasihat Nabi tadi, saya merasa surga dan neraka betul-betul di depan kita. Tetapi ketika pulang bertemu dengan keluarga, kita melupakan kampung akhirat. “Abu Bakar r.a berkata “Ya, keadaan saya juga demikian. “Kemudian kami berdua menghadap Rasulullah Saw."
Saya berkata, “Ya, Rasulullah, saya telah menjadi orang munafik. ”Nabi Saw bertanya. “Apa yang telah terjadi?” Saya berkata, “Ya, Rasulullah, jika kami berada di majelismu dan engkau menceritakan tentang surga dan neraka kepada kami, kami merasa takut. Tetapi jika kami kembali ke rumah menjumpai anak isteri kami, bercanda dan bermain bersama mereka, kami melupakan surga dan neraka.“
Mendengar penjelasan saya, Nabi Saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan–Nya, jika setiap saat keadaanmu seperti ketika berada di dekat saya, niscaya para malaikat akan turun mengucapkan salam kepadamu ditempat tidurmu dan ketika kamu sedang berjalan. Tetapi wahai Hanzhalah, keadaan ini seperti ini jarang terjadi. “
Tak kalah masa keindahan itu tiba selepas melangsungkan pernikahan dengan wanita yang dicintainya, malam pertama sebagai bulan madu dilewati dengan penuh rasa kebahagiaan belum lagi menuntaskan rasa kebahagiaan itu tiba- tiba sayup terdengar dari jauh suara panggilan jihad yang semakin lama mendekat dan menggetarkan hati beliau, dan seruan jihad itu makin lama makin terngiang di telinganya dan tanpa pikir panjang lagi ia pun bergegas mengambil pedangnya yang memang telah dipersiapkan dan ia pun menuju medan pertempuran di Bukit Uhud tanpa menghiraukan lagi bulan madunya bersama istri yang ada dibenaknya adalah surga sudah menantinya.
Di daerah peperangan Uhud kaum muslimin mempertaruhkan nyawa, mempertahankan muru’ah, kemuliaan dan ketinggian Islam, berjihad dengan keberanian dan patriotisme yang tinggi menghadapi pasukan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sofyan, begitu juga yang dilakukan Hanzhalah, ia mencabut pedangnya lalu merangsak masuk ke tengah-tengah musuh melibas siapa yang mendekatinya tak kenal ampun, melayangkan pedangnya satu demi satu musuhnya terluka bersimbah darah karena tebasan pedangnya.
Kepiawaianya bertarung di medan laga telah terbukti dia merangsak masuk ke tengah-tengah pengawal Abu Sofyan dan langsung berhadapan dengan pemimpin kafir itu bahkan nyaris saja dapat membunuhnya kalau saja dia tidak berteriak minta tolong kepada pasukan kafir Quraisy kemudian teriakan itu didengar oleh Syadad bin Al Aswad yang langsung menikam Hanzhalah dari belakang dengan pedang yang kemudian disusul oleh pasukan Quraisy lainnya dengan menikam dan menombak yang mengakibatkan Hanzhalah jatuh tersungkur dengan bermandikan darah.
Seusai peperangan Abu Amir dan Abu Sofyan mengitari dan mencari data-data kaum muslimin yang terbunuh dalam perang tersebut, ditemukan pula jasad Khariyah bin Abu Suhair pemimpin dari Bani Khazraj dan juga Abbas bin Ubadah bin Fadhlah serta Zakwan bin Abu Qaies bangsawan Yastrib dan juga tentunya mereka menemukan jasad Hanzhalah, yang selanjutnya mereka meneruskan dengan mencincang dan merusak mayat-mayat tersebut sebagai pengukapan balas dendam mereka terhadap keluarganya yang terbunuh dalam perang Badar dua tahun lalu.
Ayahnyapun kemudian berkata,”Wahai anakku kenapa kamu tidak mengikuti perintahku untuk tidak ikut berperang, ucap Abu Amir dengan penuh kesedihan ”andai kamu mentaati perintahku pasti kamu akan hidup terhormat bersama kaum Aus,’’. Dan Abu Amir memohon kepada orang Quraisy untuk tidak mencincang anaknya, sementara ia sendiri telah mencincang jasad kaum muslimin.
Setelah itu para sahabat menyisir dan menemukan satu persatu jasad kaum muslimin diantaranya adalah jasad Hamzah bin Abi Thalib yang telah rusak jantungnya tidak ada lagi kemudian juga jasad Hanzhalah yang masih utuh kelihatan segar dan terdapat air yang menempel di sekujur tubuhnya seperti bekas mandi. Kemudian hal itu disampaikan kepada nabi Muhammad dan Beliau pun mendo’akan sembari melihat ke langit dan berkata kepada para sahabat, ’’Aku melihat malaikat-malaikat sedang memandikan Hanzhalah bin Abu Amir diantara langit dan bumi dengan mempergunakan air Muzn (mendung) yang diambil dari bejana perak.’’
Beliau pun mengutus salah seorang sahabat untuk mengabarkan kepada istri nya Jamilah binti Abdullah Bin Salul dan menanyakannya apa yang dilakukan Hanzhalah sebelum pergi berperang, istrinya mengatakan,’’ketika mendengar seruan jihad dan sebelum pergi berperang Hanzhalah masih dalam keadaan Junub (janabat) dan belum sempat mandi katanya,”
Berbahagialah Hanzhalah sebagai syuhada yang dimandikan oleh malaikat dia memperoleh kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah, itulah sebaik baik tempat dan balasan yang tidak semua orang bisa untuk mencapainya.
Saya berkata, “ketika kita mendengar nasihat Nabi tadi, saya merasa surga dan neraka betul-betul di depan kita. Tetapi ketika pulang bertemu dengan keluarga, kita melupakan kampung akhirat. “Abu Bakar r.a berkata “Ya, keadaan saya juga demikian. “Kemudian kami berdua menghadap Rasulullah Saw."
Saya berkata, “Ya, Rasulullah, saya telah menjadi orang munafik. ”Nabi Saw bertanya. “Apa yang telah terjadi?” Saya berkata, “Ya, Rasulullah, jika kami berada di majelismu dan engkau menceritakan tentang surga dan neraka kepada kami, kami merasa takut. Tetapi jika kami kembali ke rumah menjumpai anak isteri kami, bercanda dan bermain bersama mereka, kami melupakan surga dan neraka.“
Mendengar penjelasan saya, Nabi Saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan–Nya, jika setiap saat keadaanmu seperti ketika berada di dekat saya, niscaya para malaikat akan turun mengucapkan salam kepadamu ditempat tidurmu dan ketika kamu sedang berjalan. Tetapi wahai Hanzhalah, keadaan ini seperti ini jarang terjadi. “
Tak kalah masa keindahan itu tiba selepas melangsungkan pernikahan dengan wanita yang dicintainya, malam pertama sebagai bulan madu dilewati dengan penuh rasa kebahagiaan belum lagi menuntaskan rasa kebahagiaan itu tiba- tiba sayup terdengar dari jauh suara panggilan jihad yang semakin lama mendekat dan menggetarkan hati beliau, dan seruan jihad itu makin lama makin terngiang di telinganya dan tanpa pikir panjang lagi ia pun bergegas mengambil pedangnya yang memang telah dipersiapkan dan ia pun menuju medan pertempuran di Bukit Uhud tanpa menghiraukan lagi bulan madunya bersama istri yang ada dibenaknya adalah surga sudah menantinya.
Di daerah peperangan Uhud kaum muslimin mempertaruhkan nyawa, mempertahankan muru’ah, kemuliaan dan ketinggian Islam, berjihad dengan keberanian dan patriotisme yang tinggi menghadapi pasukan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sofyan, begitu juga yang dilakukan Hanzhalah, ia mencabut pedangnya lalu merangsak masuk ke tengah-tengah musuh melibas siapa yang mendekatinya tak kenal ampun, melayangkan pedangnya satu demi satu musuhnya terluka bersimbah darah karena tebasan pedangnya.
Kepiawaianya bertarung di medan laga telah terbukti dia merangsak masuk ke tengah-tengah pengawal Abu Sofyan dan langsung berhadapan dengan pemimpin kafir itu bahkan nyaris saja dapat membunuhnya kalau saja dia tidak berteriak minta tolong kepada pasukan kafir Quraisy kemudian teriakan itu didengar oleh Syadad bin Al Aswad yang langsung menikam Hanzhalah dari belakang dengan pedang yang kemudian disusul oleh pasukan Quraisy lainnya dengan menikam dan menombak yang mengakibatkan Hanzhalah jatuh tersungkur dengan bermandikan darah.
Seusai peperangan Abu Amir dan Abu Sofyan mengitari dan mencari data-data kaum muslimin yang terbunuh dalam perang tersebut, ditemukan pula jasad Khariyah bin Abu Suhair pemimpin dari Bani Khazraj dan juga Abbas bin Ubadah bin Fadhlah serta Zakwan bin Abu Qaies bangsawan Yastrib dan juga tentunya mereka menemukan jasad Hanzhalah, yang selanjutnya mereka meneruskan dengan mencincang dan merusak mayat-mayat tersebut sebagai pengukapan balas dendam mereka terhadap keluarganya yang terbunuh dalam perang Badar dua tahun lalu.
Ayahnyapun kemudian berkata,”Wahai anakku kenapa kamu tidak mengikuti perintahku untuk tidak ikut berperang, ucap Abu Amir dengan penuh kesedihan ”andai kamu mentaati perintahku pasti kamu akan hidup terhormat bersama kaum Aus,’’. Dan Abu Amir memohon kepada orang Quraisy untuk tidak mencincang anaknya, sementara ia sendiri telah mencincang jasad kaum muslimin.
Setelah itu para sahabat menyisir dan menemukan satu persatu jasad kaum muslimin diantaranya adalah jasad Hamzah bin Abi Thalib yang telah rusak jantungnya tidak ada lagi kemudian juga jasad Hanzhalah yang masih utuh kelihatan segar dan terdapat air yang menempel di sekujur tubuhnya seperti bekas mandi. Kemudian hal itu disampaikan kepada nabi Muhammad dan Beliau pun mendo’akan sembari melihat ke langit dan berkata kepada para sahabat, ’’Aku melihat malaikat-malaikat sedang memandikan Hanzhalah bin Abu Amir diantara langit dan bumi dengan mempergunakan air Muzn (mendung) yang diambil dari bejana perak.’’
Beliau pun mengutus salah seorang sahabat untuk mengabarkan kepada istri nya Jamilah binti Abdullah Bin Salul dan menanyakannya apa yang dilakukan Hanzhalah sebelum pergi berperang, istrinya mengatakan,’’ketika mendengar seruan jihad dan sebelum pergi berperang Hanzhalah masih dalam keadaan Junub (janabat) dan belum sempat mandi katanya,”
Berbahagialah Hanzhalah sebagai syuhada yang dimandikan oleh malaikat dia memperoleh kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah, itulah sebaik baik tempat dan balasan yang tidak semua orang bisa untuk mencapainya.
Umar bin Khattab: Kesulitan yang Kuhadapi Telah Membuatku Semakin Dekat dengan Rabbku
Wahai lbnul Khaththab, demi Zat yang menggenggam jiwaku, tidaklah setan melihatmu menyusuri satu jalan kecuali ia akan memilih jalan yang lain selain jalanmu (agar tidak berpapasan denganmu).
Al-Faruq adalah julukan bagi Abu Hafsah atau lebih dikenal dengan Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza al-Quraisyi al-Adi. Umar dilahirkan 13 tahun setelah tahun Gajah (40 tahun sebelum hijrah). Di masa mudanya dikenal dengan kegagahan dan kekuatannya. la memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan kaumnya, karena ia suka menjadi duta dan mediator perdamaian di zaman jahiliyah, sehingga orang Quraisy suka mengirimnya sebagai utusan jika terjadi peperangan diantara mereka, atau dengan suku yang lain.
Kelslamannya
Umar masuk Islam pada tahun keenam setelah kenabian. Khabbab bin al-Arts mengajarkan al-Qur'an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya, Said bin Zaid. Tapi, mereka dikejutkan oleh kedatangan Umar bin Khaththab yang muncul sambil menyandang pedang yang dibawanya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Islam dan Rasulullah saw. Belum sempat Khabbab membaca al-Qur'an yang tertulis diatas lembaran, ia mendengar Umar berteriak: "Beritahukanlah kepadaku di mana Muhammad?"
Khabbab mendengar perkataan Umar, ia lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan berteriak: "Wahai Umar, demi Allah, sesungguhnya aku sangat berharap bahwa Allah telah memperuntukkan dirimu (bagi Islam) dengan perantaraan doa Nabi-Nya saw, karena aku mendengar beliau saw berdoa: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu yang lebih Engkau sukai dari dua orang ini: Abul Hakam bin Hisyam ataukah Umar bin Khaththab".
Umar segera bertanya kepada Khabbab bin Arth: "Wahai Khabbab, dimanakah gerangan aku bisa menemui Muhammad?" Khabbab menjawab: "Di bukit Shafa, tepatnya di rumah Arqam bin Abi al-Arqam ". Umar kemudian berlalu menuju takdirnya yang agung.
Ketika tiba di rumah Arqam bin Abi al-Arqam, Rasulullah saw keluar menyambutnya, menggenggam pakaian dan gantungan pedangnya, dan Beliau Saw berkata: "Apakah engkau tidak akan menghentikan tindakanmu selama ini wahai Umar, hingga Allah menurunkan padamu kehinaan dan siksaan sebagaimana yang Dia turunkan pada al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah, inilah Umar bin Kbaththab, Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan Umar bin Khaththab". Seketika itu juga Umar berkata: "Aku bersaksi, sesungguhnya engkau adalah utusan Allah. "
Dengan Islamnya Umar bin Khaththab, Islam muncul dengan kuat di Makkah. Disertai Umar kaum Muslimin memasuki Masjidil Haram, melaksanakan shalat di sekitar Ka'bah tanpa diganggu dan dihalang-halangi oleh kaum Quraisy. Karena itulah Rasulullah saw menyebutnya dengan gelar al-Faruq, karena Allah Swt telah memisahkan antara kebenaran dan kebathilan.
Ibnu Ishaq menceritakan bahwa Ibnu Umar r.a berkata, “Ketika Umar bin Khattab masuk Islam, maka dia bertanya, “Siapakah di antara orang-orang Quraiys yang paling banyak berkata-kata?” Lalu dijawab,”Jamil bin Ma’mar al Jumahi.“ Maka Umar mendatangi Jamil bin Ma’mar. Ibnu Umar melanjutkan, “Saya pun mengikutinya dari belakang, saya ingin melihat apa yang dilakukannya. Pada saat itu saya masih kecil, tapi saya dapat mengerti sesuatu yang terjadi.” Umar ra. mendatangi Jamil dan berkata, “Wahai Jamil! Apakah kamu sudah tahu bahwa aku telah masuk Islam, dan telah mengikuti ajaran agama Muhammad saw.?”
Abdullah bin Umar berkata,”Mendengar hal itu, Jamil tidak menjawab, melainkan berdiri, lalu pergi meninggalkannya. Jamil sampai di pintu masjid. Lalu sambil berdiri Jamil berseru dengan suara keras, “Wahai kaum Quraisy, dengarlah! Umar bin Khattab telah menjadi kafir.” Orang-orang Quraisy pun berkumpul di sekeliling ka’bah. Tiba-tiba dari belakang, Umar berkata,”Dia telah berkata bohong, saya telah masuk Islam dan telah mengucapkan dua kalimah syahadat.” Mendengar hal itu, orang-orang Quraisy menyerang Umar sampai roboh. Lalu Umar bangkit tetapi mereka segera menghajar Umar kembali sampai roboh, mereka menginjak-injak kepala Umar.
Ketika mereka sedang memukuli Umar, tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian jubah Yaman yang indah mendatangi mereka dan berkata,”Apakah yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Kami sedang menghajar Umar karena dia telah menjadi kafir.” Orang itu berkata, “Apakah suku bani As’ad akan rela membiarkan perbuatan kalian?” Kemudian orang itu memerintahkan supaya melepaskan Umar.
Ibnu Umar melanjutkan, “Wahai ayah! Pada hari engkau masuk Islam dan orang-orang Makkah memukulimu, maka ada seseorang datang dan memarahi mereka, kemudian merekapun membiarkan engkau, siapakah orang itu.” Umar menjawab, “Dia adalah Ash bin Wail as Sahmi.”
Al-Faruq adalah julukan bagi Abu Hafsah atau lebih dikenal dengan Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza al-Quraisyi al-Adi. Umar dilahirkan 13 tahun setelah tahun Gajah (40 tahun sebelum hijrah). Di masa mudanya dikenal dengan kegagahan dan kekuatannya. la memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan kaumnya, karena ia suka menjadi duta dan mediator perdamaian di zaman jahiliyah, sehingga orang Quraisy suka mengirimnya sebagai utusan jika terjadi peperangan diantara mereka, atau dengan suku yang lain.
Kelslamannya
Umar masuk Islam pada tahun keenam setelah kenabian. Khabbab bin al-Arts mengajarkan al-Qur'an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya, Said bin Zaid. Tapi, mereka dikejutkan oleh kedatangan Umar bin Khaththab yang muncul sambil menyandang pedang yang dibawanya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Islam dan Rasulullah saw. Belum sempat Khabbab membaca al-Qur'an yang tertulis diatas lembaran, ia mendengar Umar berteriak: "Beritahukanlah kepadaku di mana Muhammad?"
Khabbab mendengar perkataan Umar, ia lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan berteriak: "Wahai Umar, demi Allah, sesungguhnya aku sangat berharap bahwa Allah telah memperuntukkan dirimu (bagi Islam) dengan perantaraan doa Nabi-Nya saw, karena aku mendengar beliau saw berdoa: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu yang lebih Engkau sukai dari dua orang ini: Abul Hakam bin Hisyam ataukah Umar bin Khaththab".
Umar segera bertanya kepada Khabbab bin Arth: "Wahai Khabbab, dimanakah gerangan aku bisa menemui Muhammad?" Khabbab menjawab: "Di bukit Shafa, tepatnya di rumah Arqam bin Abi al-Arqam ". Umar kemudian berlalu menuju takdirnya yang agung.
Ketika tiba di rumah Arqam bin Abi al-Arqam, Rasulullah saw keluar menyambutnya, menggenggam pakaian dan gantungan pedangnya, dan Beliau Saw berkata: "Apakah engkau tidak akan menghentikan tindakanmu selama ini wahai Umar, hingga Allah menurunkan padamu kehinaan dan siksaan sebagaimana yang Dia turunkan pada al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah, inilah Umar bin Kbaththab, Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan Umar bin Khaththab". Seketika itu juga Umar berkata: "Aku bersaksi, sesungguhnya engkau adalah utusan Allah. "
Dengan Islamnya Umar bin Khaththab, Islam muncul dengan kuat di Makkah. Disertai Umar kaum Muslimin memasuki Masjidil Haram, melaksanakan shalat di sekitar Ka'bah tanpa diganggu dan dihalang-halangi oleh kaum Quraisy. Karena itulah Rasulullah saw menyebutnya dengan gelar al-Faruq, karena Allah Swt telah memisahkan antara kebenaran dan kebathilan.
Ibnu Ishaq menceritakan bahwa Ibnu Umar r.a berkata, “Ketika Umar bin Khattab masuk Islam, maka dia bertanya, “Siapakah di antara orang-orang Quraiys yang paling banyak berkata-kata?” Lalu dijawab,”Jamil bin Ma’mar al Jumahi.“ Maka Umar mendatangi Jamil bin Ma’mar. Ibnu Umar melanjutkan, “Saya pun mengikutinya dari belakang, saya ingin melihat apa yang dilakukannya. Pada saat itu saya masih kecil, tapi saya dapat mengerti sesuatu yang terjadi.” Umar ra. mendatangi Jamil dan berkata, “Wahai Jamil! Apakah kamu sudah tahu bahwa aku telah masuk Islam, dan telah mengikuti ajaran agama Muhammad saw.?”
Abdullah bin Umar berkata,”Mendengar hal itu, Jamil tidak menjawab, melainkan berdiri, lalu pergi meninggalkannya. Jamil sampai di pintu masjid. Lalu sambil berdiri Jamil berseru dengan suara keras, “Wahai kaum Quraisy, dengarlah! Umar bin Khattab telah menjadi kafir.” Orang-orang Quraisy pun berkumpul di sekeliling ka’bah. Tiba-tiba dari belakang, Umar berkata,”Dia telah berkata bohong, saya telah masuk Islam dan telah mengucapkan dua kalimah syahadat.” Mendengar hal itu, orang-orang Quraisy menyerang Umar sampai roboh. Lalu Umar bangkit tetapi mereka segera menghajar Umar kembali sampai roboh, mereka menginjak-injak kepala Umar.
Ketika mereka sedang memukuli Umar, tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian jubah Yaman yang indah mendatangi mereka dan berkata,”Apakah yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Kami sedang menghajar Umar karena dia telah menjadi kafir.” Orang itu berkata, “Apakah suku bani As’ad akan rela membiarkan perbuatan kalian?” Kemudian orang itu memerintahkan supaya melepaskan Umar.
Ibnu Umar melanjutkan, “Wahai ayah! Pada hari engkau masuk Islam dan orang-orang Makkah memukulimu, maka ada seseorang datang dan memarahi mereka, kemudian merekapun membiarkan engkau, siapakah orang itu.” Umar menjawab, “Dia adalah Ash bin Wail as Sahmi.”
Kuburan Ahlul Bait yang hanya berisi kepala di Masjid Attibr / Masjid Ibrahim Al Jawwad..
Pada Tanggal 29 Mei 2007, rihlah Muttaqien periode ini mengunjungi sebuah masjid yg didalamnya ada sebuah kuburan ulama besar yaitu SYAIKH IBRAHIM AL JAWWAD, beliau masih keturunan Rasulullah SAW, dari cucunya Imam Hussein puteranya Fatimah Azzahra binti Muhammad SAW.
Sebelum mengupas sejarah beliau, guide kami, Ustadz Aep Saefullah Darusmanwiati.Sag.Lc. mengawali dengan memberikan informasi tentang keberadaan kuburan yang hanya berisi kepala saja..
Di Mesir ini ada 3 kuburan yang hanya berisi kepala saja, semuanya masih keluarga Rasulullah SAW, yaitu : Yang pertama kuburan Imam Hussein, yang berada di Masjid Hussien, samping pasar Khan Khalili, yang kedua kuburan Imam Zaid bin Ali Zainul 'Abidin, yang berada di Masjid Zainul Abidin, daerah Old Cairo, dan yang terakhir Kuburan Ibrahim Al Jawwad yang terletak di Masjid Attibr atau masjid Ibrahim Al Jawwad di daerah Mathoriah.
Kuburan Imam Hussein
Imam Hussein, merupakan cucu Rasulullah SAW. Dalam sejarah kita kenal pada masa kekuasaan Yazid bin Umayyah, khalifah Yazid terkenal zalim, dan ingin menguasai seluruh daerah kekuasaan Islam, dan semua harus tunduk kepadanya, walau pun itu Ahlul Bait, Disebutkan pula bagaimana perjuangan Imam Hussein mengajak umat ke jalan kebenaran dan benci kepada kebathilan, khalifah Yazid sangat benci dan ingin membunuh Imam Hussein, karen takut kekuasaannya berpindah tangan. Dalam kondisi genting seperti, penduduk Kufah (Irak) mengundang sang imam untuk berkunjung ke daerahnya, dan berlindung disana.
Maka berangkatlah Sang Imam bersama dengan seluruh keluarganya, tanpa pasukan, karena untuk menghadiri undangan penduduk Kufah bukan untuk berperang. Rombongan terdiri dari 15 orang laki2 yang turut serta. Ternyata di lembah yang disebut Karbala, pasukan Yazid sudah menunggu, maka dibantailah mereka, dengan menyisakan Sayyidah Zainab (kuburannya ada di mesir juga di masjid Sayyidah Zainab), saudara perempuan Imam Hussein. Imam Hussein kepalanya di penggal.Kenapa Sayyidah Zainab tidak dibunuh, karena untuk dijadikan sebagai saksi di depan Yazid, karena bisa jadi Yazid tidak percaya kalau tak ada saksi bahwa kepala yang dia bawa adalah kepala Imam Husein, bisa saja digantikan kepala yang lain yang wajahnya mirip wajah Imam Hussein.
Sayyidah Zainab, adalah puteri dari Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Azzahra (putri Rasullah SAW). Merupakan cucu Rasullah yang namanya mirip dengan bibinya yaitu Zainab, puteri Rasulullah yang menikah dengan orang kafir Quraisy, waktu itu masih di Mekkah. Karena bencinya orang kafir Quraisy terhadap keluarga Rasulullah SAW, Sayyidah Zainab yang waktu itu hamil besar dibunuh dan dikeluarkan si bayi dalam perutnya. Maka karena kecintaan beliau pada puterinya maka cucu perempuannya pun diberi nama ZAINAB. Yang merupakan anak ke tiga pasangan Ali karamawllohu wajhah dan Fatimah Azzahra setelah Imam Hassan dan Imam Hussein.
Sayyidah Zainab, mau dijadikan saksi pembunuhan kakanya, dengan syarat, pasukan Yazid tidak membunuh Ali Zainul Abidin, yang waktu itu masih kecil berusia 9thn an dan dalam kondisi sakit2an. Setelah bertemu dengan Yazid, Dua orang keluarga Rasulullah ini pergi ke Mesir dengan melauli Astsaqolain, daerah Palestina lalu ke Syiria Damascus dan sampailah di Mesir ini.
Pada Tahun 971 Masehi, pada masa pemerintahan syiah Fathimiyyah berkuasa di mesir. Dengan rajanya Al Mursyid Ni'matullah, memboyong kepala Imam Hussein, dan dikuburkan di Masjid Hussein Sekarang.
Mencintai Ahlul Bait bukan kewajiban para kaum syiah saja tetapi seluruh umat Islam karena hadistnya Shohih Riwayat Imam Bukhori Muslim. Perintahnya Cintailah Ahlul Bait..Matan hadistnya saya tidak begitu jelas kemarin.
Kuburan ini sudah dibuktikan keberadaannya oleh para sejarawan, ketika thn 1900an para sejarawan diundang oleh mufti untuk menyaksikan kuburan Imam Hussein. Sejarawan Mohammad Zaki menulis dalam bukunya dia melihat dengan kepala sendiri bahwa benar kuburan itu hanya berisi kepala Imam Hussein saja.
Kuburan Imam Zaid bin Ali Zainul Abidin
Kalau kita mengunjungi Madinah, sebelah masjid Nabawi ada kuburan Baqi, dimana dikuburkan seluruh keluarga Rasulullah SAW. Diantaranya Aisyah (isteri beliau), Hassan (cucu beliau), Fatimah Azzahra, juga anak2 beliau yang lainnya.
Kita melihat disitu ada gundukan yang ditinggikan, yang terkenal dengan sebutan ASSYUHADA ALHUROH, kuburan orang2 yang meningga gugur waktu berperang melawan Bani Ummayah. Salah satunya adalah cucu Imam Hussein, yaitu IMAM ZAID BIN ALI ZAINUL ABIDIN, ayahnya Ali Zainul Abidin adalah satu2nya generasi Imam Hussein yang tertinggal di pembantaian KARBALA.
Pada peperangan melawan Bani Umayyah yang zalim itu, Imam Zaid mengajak umat Islam untuk berperang. Mestinya kemenagan sudah di tangan, tapi pasukan Bani Umayyah sangat gencar perlawanannya. Akhirnya meninggallah Imam Zaid. Jenazahnya di penggal, bagian badan di bakar di depan Masjid Nabawi. Sementara itu kepalanya digantung tepat di pintu Jibril, Masjid Nabawi. Maksudnya untuk nakut2i, agar orang2 tidak boleh berontak terhadap kekuasaan khalifah.
Pada waktu haji, rombongan haji dari Mesir yang sangat mencintai Ahlul Bait, mencuri kepala tersebut dan dikuburkan disamping ayahandanya sang Imam di Masjid Zainul Abidin. Pada tahun kemarin kita berkunjung kesana..
Kuburan Syaikh Ibrahim Al Jawwad
Pada masa pemerintahan awal Abbasiyah juga masih keturunan Ahlul Bait. Bahkan Khalifah Abbas sendiri bilang bahwa yang berhak menggantikannya adlah dari golongan ahlul bait. Tapi keturunannya tidak mau, karena sudah enak dan senang menduduki kekuasaan kali ya. Mereka menginginkan, hanya dari keluarga Abbas saja yang berhak meneruskan kekuasaan.
Ibrahim Al Jawaad masih keturunan Ahlul Bait dari Imam Hussein juga. Ibrahim Al Jawwad bin Abdullah Alma'sum bin Zaid Al Ablag bin Ali Zainul Abidin bin Hussein bin Ali R.a. Ibrahim al Jawwad adalah adik dari Mohammad Nafi' Azzaidun, keduanya tersohor karena kesholehannya, walaupun waktu itu sudah ada, Massa Al Qodim dan Ja'far Ashodiq, dari keluarga Ahlu Bait, tapi mereka Moh. Nafi' dan Ibrahim sangat alim dibandingkan keduanya. Maka mereka lebih berhak untuk menjadi pemimpin kekhalifahan masa itu.
Karena dianggap mengganggu kelangsungan pemerintahannya dia, maka Al Mansyur Al Abbasiyah, memerintahkan untuk menangkap mereka. Lalu sembunyilah kedua kaka beradik itu. Untuk bisa menangkap mereka, di tangkaplah ayah mereka disiksa dan di bunuh, akhirnya Mohammad Nafi' tertangkap karena keluar tidak tega terhadap ayahnya, namun ternyata dibunuh juga dan dipancung. Maka larilah Ibrahim Al Jawwad ke Kufah lalu sembunyi dan mengatur strategi dan kekuatan pasukan 10 ribu orang untuk memerangi Al Mansyur Al Abbasiyyah.
Kekuatan itu begitu banyak, karena orang2 sudah tidak suka dengan khalifah yang zalim tersebut. Menurut ahli sejarah, jika Ibrahim punya siasat yang mantap, saat itu bisa menang. Akhirnya karena kalah strategi maka kalahlah Ibrahim beserta pasukannya. Terbunuhlah beliau dan dipenggal kepalanya, digantung di Masjid Amr bin Ash.
Karena takut jenazahnya dirusak, maka orang-orang membawa kepala Syaikh Ibrahim ke Mathoriah karena dianggap aman, jauh dari pusat kekuasaan Gubernur Abbasiyah, waktu itu di daerah Fustat (Old Cairo).
Syaikh Ibrahim Al Jawwad sangat terkenal kesholehan dan kealimanya. Gemar melakukan puasa dan shodaqoh. Beliau sangat dermawan memelihara lebih 100 anak yatim, padahal dia tak punya pekerjaan, lalu darimana dia dapatka itu semua? Allah mencukupi itu semuanya. Dan ketika mendapat harta 1/3nya saja dia ambil selebihnya dia bagikan seluruhnya kepada seluruh penduduk madinah dan Kufah (Irak).
Dalam bukunya , sejarawan mesir Su'ad Maher menggambarkan keadaan masjid Ibrahim dulunya sangat luas, dilengkapi dengan kamar2 pelajar yang menimba ilmu. Sebagai pusat ilmu ke dua setelah Masjid Sultan Hasan. Tapi sekarang sangat kecil terpotong oleh rumah2 penduduk.
Mudah2an menjadi hikmah kita bahwa ternyata dari dulu kekuasaan selalu menumppahkan darah, maka jadikan kekuasaan itu hanya milik Allah SWT, ketika diberi amanah kekuasaan kita bisa kembali ke Allah SWT. Dan menjalankannya dengan tenang..
Kalau ada salah mohon ralat karena keterbatasan ilmu dari saya...
Minyak Zaitun
“Konsumsilah minyak zaitun dan gunakan sebagai minyak rambut, karena minyak zaitun dibuat dari pohon yang penuh berkah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Fungsi minyak zaitun:
1. Mengurangi kolesterol berbahaya tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat.
2. Mengurangi risiko penyumbatan (trombosis) dan penebalan (ateriosklerosis) pembuluh darah.
3. Mengurangi pemakaian obat-obatan penurun tekanan darah tinggi.
4. Mengurangi serangan kanker.
5. Melindungi dari serangan kanker payudara. Sesendok makan minyak zaitun setiap hari mengurangi risiko kanker payudara sampai pada kadar 45%.
6. Menurunkan risiko kanker rahim sampai 26%.
7. Pengkonsumsian buah-buahan, sayuran, dan minyak zaitun memiliki peran penting dalam melindungi tubuh dari kanker kolon.
8. Penggunaan minyak zaitun sebagai krim kulit setelah berenang melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma)
9. Berpengaruh positif melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi risiko tukak lambung.
10. Mengandung lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi manusia seperti yang terdapat dalam ASI.
11. Penggunaan sebagai minyak rambut mampu membunuh kutu dalam waktu beberapa jam saja.
Setiap penyakit itu ada obatnya, seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan penyembuhnya. Hanya saja ada orang yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengetahui dan menerapkan pengobatan yang terbukti kemanjurannya.
Fungsi minyak zaitun:
1. Mengurangi kolesterol berbahaya tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat.
2. Mengurangi risiko penyumbatan (trombosis) dan penebalan (ateriosklerosis) pembuluh darah.
3. Mengurangi pemakaian obat-obatan penurun tekanan darah tinggi.
4. Mengurangi serangan kanker.
5. Melindungi dari serangan kanker payudara. Sesendok makan minyak zaitun setiap hari mengurangi risiko kanker payudara sampai pada kadar 45%.
6. Menurunkan risiko kanker rahim sampai 26%.
7. Pengkonsumsian buah-buahan, sayuran, dan minyak zaitun memiliki peran penting dalam melindungi tubuh dari kanker kolon.
8. Penggunaan minyak zaitun sebagai krim kulit setelah berenang melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma)
9. Berpengaruh positif melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi risiko tukak lambung.
10. Mengandung lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi manusia seperti yang terdapat dalam ASI.
11. Penggunaan sebagai minyak rambut mampu membunuh kutu dalam waktu beberapa jam saja.
Setiap penyakit itu ada obatnya, seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan penyembuhnya. Hanya saja ada orang yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengetahui dan menerapkan pengobatan yang terbukti kemanjurannya.
Langganan:
Postingan (Atom)


















